Tubuhku kaku, mematung. Mata itu
menatapku, menyihirku. Rasanya aku berada di dunia tanpa rotasi bumi.
Seakan-akan bumi berhenti, ikut terpana menyaksikan padangan kami bertemu. Buru-buru
kupalingkan pandangan, aku menunduk. Ah, terlanjur! Secepat kilat tatapan itu
menembus kacamataku. Kemudian jatuh dan terjejal di hati, tak mau pergi.
Kemarin, dia duduk di sampingku,
ini kali pertama kami duduk bersebelahan. Di sampingku ia menikmati hobinya;
membaca. Aneh, ada sesuatu berdesir-desir di dada. Jantungku berdegub, lebih
cepat dari biasanya. Aku berusaha menguasai diri, kupalingkan mataku pada buku yang sedari tadi
aku genggam. Aku tak konsentrasi membaca, mata ini lebih sering melirik buku
yang ada di pangkuannya.
Bibirnya bergetar, suaranya
menyengatku, memecah keheningan antara kami, dia menyapaku. Jantungku berdegub, lebih cepat dari
sebelumnya. Aku tak menimpali sapanya, sungguh aku gugup. Aku tak berani
memandang wajahnya, aku kembali menunduk, melirik buku di pangkuannya. Selanjutnya,
kami sibuk dengan urusan masing-masing. Ia melanjutkan bacaanya. Dan aku susah
payah mengatur detak jantung.
Aku tak pernah kuasa jika di dekatnya,
tak bisa berdiri tegak dengan dua kakiku sendiri. Aku hanya bisa meliriknya,
melirik senyumnya dari sudut ini. Mengawasi garaknya dari sudut ini. Dan
kembali menunduk saat ia mengedarkan pandangannya ke arah ku. Di sudut ini aku
menunggu, menunggunya duduk di sampingku lagi.
Lalu, tatapan yang kau lempar tadi,
Tatapan kagum seperti yang kurasakah? Atau kau tak sengaja menatapku? Lalu,
perasaan ini, haruskah hanya aku yang tahu? Memendamnya, dan menunggumu
menanyakannya?
Esok, dia tak lagi duduk di
sampingku. Tak lagi menyihir dengan sorot matanya. Hatiku menangis, aku tersadar,
dia yang kutunggu tak kan datang. Ia telah tenggelam dengan lain. Aku kembali
menunduk, meratapi perasanku sendiri. Tapi anehnya, hatiku masih ingin
menunggunya. Tatapan itu masih terjejal, terpendam lebih dalam, tak mau pergi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar