Jumat, 05 April 2013

Edisi Sok Bijak




Kawan, pernah mendengar kisah empat orang buta merabah gajah? Pernah dong masak belum pernah sih, kisah ini terkenal ke seantero dunia lho(?!) Coba deh diingat-ingat, pasti pernah dengar. Itu lho kisah yang katanya dari India atau Persia. Yakin belum pernah dengar? Ya sudahlah kawan, aku juga belum pernah dengar. (-_-“) Tapi aku pernah membacanya. Penasaran? Akan aku ceritakan.
Katanya sih, kisah ini berasal dari India atau Persia. Kurang lebih ceritanya seperti ini: ada empat orang buta yang pengin tahu betul kayak gimana sih bentuk gajah itu? Nah, suatu hari ada seorang yang membawakannya. Dengan antusias, keempat orang ini mulai mendekati gajah tadi dan mulai merabanya.
Orang buta pertama meraba belalainya, sedangkan orang buta yang kedua meraba telinganya. Orang buta yang ketiga mulai meraba ekornya dan orang buta yang keempat meraba kakinya. Kemudian setelah keempatnya selesai, mereka kembali berkumpul dan mengutarakan pendapatnya sendiri-sendiri tentang bagaimana bentuk seekor gajah.
“Waah, betul-betul luar biasa ya? Ternyata gajah itu kayak selang ada lubang di ujungnya,” kata orang buta pertama.
“Siapa bilang? Gajah itu bentuknya tipis dan halus kayak daun pisang.” Orang buta kedua menimpali.
“Gimana sih, kalian ini?! Gajah itu kayak ular, bentuknya panjang, tahu!” Orang buta ketiga menyela dengan tak kalah sengit.
“Kalian semua salah! Aku berani bertaruh, gajah itu kuat dan kokoh kayak batang pohon!” Orang buta keempat berteriak sambil marah. Akhirnya, keempat orang buta tadi bertengkar satu sama lain.
Kawan, kira- kira amanat dari kisah di atas apa? Kalau bingung, coba deh, ibaratkan gajah sebagai kebenaran dan ibaratkan keempat orang buta tadi sebagai saksi. Coba kalau keempatnya bisa melihat, kan gaperlu banyak omong dan bertengkar. Mereka bisa melihat kebenaran, yakni bentuk gajah yang real.
Sebenarnya kisah di atas adalah sindiran bagi kebanyakan orang -terutama kita- yang sok tahu. Ngakunya pendapatnya yang paling benar. Seolah kita sendiri yang tahu. Padahal kita hanya menggunakan perangkat terbatas seperti orang buta tadi, dan hanya tahu sepenggal dari kebenran yang ada. Terlebih dengan pede-nya kita berani menyanggah kesaksian dari orang lain, tidak sopan, kawan.
Ah! Sok bijak!

Mengenal Al-Ghazali (94-97)
Dengan perubahan semau saya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar