Kawan, pernah mendengar kisah empat
orang buta merabah gajah? Pernah dong masak belum pernah sih, kisah ini
terkenal ke seantero dunia lho(?!) Coba deh diingat-ingat, pasti pernah dengar.
Itu lho kisah yang katanya dari India atau Persia. Yakin belum pernah dengar?
Ya sudahlah kawan, aku juga belum pernah dengar. (-_-“) Tapi aku pernah
membacanya. Penasaran? Akan aku ceritakan.
Katanya sih, kisah ini berasal dari
India atau Persia. Kurang lebih ceritanya seperti ini: ada empat orang buta
yang pengin tahu betul kayak gimana sih bentuk gajah itu? Nah, suatu hari ada
seorang yang membawakannya. Dengan antusias, keempat orang ini mulai mendekati
gajah tadi dan mulai merabanya.
Orang buta pertama meraba belalainya,
sedangkan orang buta yang kedua meraba telinganya. Orang buta yang ketiga mulai
meraba ekornya dan orang buta yang keempat meraba kakinya. Kemudian setelah
keempatnya selesai, mereka kembali berkumpul dan mengutarakan pendapatnya
sendiri-sendiri tentang bagaimana bentuk seekor gajah.
“Waah, betul-betul luar biasa ya?
Ternyata gajah itu kayak selang ada lubang di ujungnya,” kata orang buta
pertama.
“Siapa bilang? Gajah itu bentuknya
tipis dan halus kayak daun pisang.” Orang buta kedua menimpali.
“Gimana sih, kalian ini?! Gajah itu
kayak ular, bentuknya panjang, tahu!” Orang buta ketiga menyela dengan tak
kalah sengit.
“Kalian semua salah! Aku berani
bertaruh, gajah itu kuat dan kokoh kayak batang pohon!” Orang buta keempat
berteriak sambil marah. Akhirnya, keempat orang buta tadi bertengkar satu sama
lain.
Kawan, kira- kira amanat dari kisah di
atas apa? Kalau bingung, coba deh, ibaratkan gajah sebagai kebenaran dan
ibaratkan keempat orang buta tadi sebagai saksi. Coba kalau keempatnya bisa
melihat, kan gaperlu banyak omong dan bertengkar. Mereka bisa melihat
kebenaran, yakni bentuk gajah yang real.
Sebenarnya kisah di atas adalah
sindiran bagi kebanyakan orang -terutama kita- yang sok tahu. Ngakunya
pendapatnya yang paling benar. Seolah kita sendiri yang tahu. Padahal kita
hanya menggunakan perangkat terbatas seperti orang buta tadi, dan hanya tahu
sepenggal dari kebenran yang ada. Terlebih dengan pede-nya kita berani
menyanggah kesaksian dari orang lain, tidak sopan, kawan.
Ah! Sok bijak!
Mengenal
Al-Ghazali (94-97)
Dengan
perubahan semau saya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar