Selasa, 01 September 2015

September




Nggak nyangka September tahun ini datang lebih cepat. Tahun lalu pas September datang yang aku khayalin adalah, Tahun depan hidup aku gimana ya? Aku ngerantau kemana? Dan aku lagi apa? Ternyata khayalan cuma sekedar khayalan. Kenyataannya hari ini aku masih di rumah dan lagi nulis entri yang belum tentu ada orang yang mau baca.
Akhir masa sekolahku ditutup dengan sangat mengecewakan. Semua berawal dari awal 2015. Anak-anak pada tau masa kontrak kita di sekolah tinggal ngitung hari. Pertengahan April adalah akhir perjuangan kita dan kita harus bener bener angkat kaki setelah wisuda di 23 Mei. Dibulan April itulah akhir perjuangan kita dan kita harus berusaha mati-matian dengan menempuh jalan apapun itu.
Sulit buat aku dan mungkin beberapa teman buat maafin hal ini. Yang bikin aku dan mungkin beberapa temen kecewa adalah the annual book yang udah direncanain sejak awal 2015 belum datang juga hingga acara di 23 Mei. Dan baru bisa diambil pertengahan Agustus lalu. Kecewa dong, harusnya kan tuh buku dateng pas yang lain masih pada free dan kita bisa ngulik isi buku itu bareng-bareng sambil ketawa ketiwi. Mana aku kangen banget guyon bareng mereka.
Ya emang sih, aku sempet ngebahas bukunya sama Beta, tapi itupun cuma pas disuruh sama Mas Dedi buat ngecek ada atau enggaknya cacat pada buku. Walau sangat menyangsikan dugaan Mas Dedi, aku sama Beta tetep nurutin perkataan dia. Gimana nggak sangsi coba orang harga bukunya aja hampir dua kali lipat dari harga tahun lalu, apalagi mengingat percetakannya di ibukota provinsi, mana mungkin bukunya cacat. Dan bener dugaanku, betapa sempurnanya the annual book tahun ini. 
Karena dihari itu Beta mau persiapan ospek, jadilah aku ngulik tu buku sendirian, nyari part kelas aku dan melototin muka-muka yang bikin aku bosen selama dua tahun terakhir. Tapi ternyata rasa bosen yang berlebihan bisa berubah jadi rasa kangen di kemudian hari.
Sebenarnya sih, ada hal yang lebih ngecewain dari ngaretnya the annual book. Yang bikin aku kecewa sampai yang sangat dalam yaitu isi dari bukunya, gimana enggak kecewa, di part kelas aku gaada tulisan Elpasa d’Pako (didikan Pak Joko). Kenapa? Apa karna Pak Joko udah enggak bakal mendidik kita atau adek kelas kita? Dan kenapa juga kita enggak foto bareng sama beliau. Foto terakhir kita bareng sama beliau. Sebelum akhirnya kita nggak bisa ketemu beliau untuk selama-lamanya. Sori kalo lebay.
Masa-masa setelah 23 Mei adalah masa-masa sulit bagi aku. Aku bener-bener nggak tau aku siapa aku. Kayak pas lapor kehilangan KTP waktu itu, pas ditanya “Pekerjaannya apa, Mbak?” Aku bener bener diem sampai akhirnya Pak Polisi bilang “Pelajar/Mahasiswa, ya?”. Diiyain aja deh walaupun saat itu pelajar bukan, mahasiswa juga bukan.
Semuanya masih terasa sulit bahkan sampai pertengahan Agustus. Pada suatu sore yang indah itu..
“Mbak Fella sekolah ten pundi?
“Dereng ngertos, Mbak” hehe
“Lah podo karo Unang. Mberoh kae meh dadi opo.”
“....”
Mberoh kae meh dadi opo...
Mberoh kae meh dadi opo.
Setelah delapanbelas tahun mengenal Unang dan merasa lebih baik dari Unang ternyata dugaanku salah, aku dan Unang adalah sama. Ya, pada dasarnya seseorang memang nggak bisa menilai dirinya sendiri. Karna kita butuh cermin untuk melihat siapa kita dan orang lain lah cermin kita yang sebenarnya.
Kemudian pada pagi yang cerah itu, sedang di Kator Polisi bersama Bapak..
“Sekarang lanjutin kemana?”
“Ten Jogja, Bu”
“....”
“....”
“Lha Si Unang (another Unang) mau lanjut kemana?” tanya Bapak.
“Nah itu, kemaren pas ujian D3 dia keterima, malah nggak mau diambil, katanya D3 itu...”
Sebenernya penolakan Unang belum seberapa. Bapak pernah cerita, "Nduk, tadi pas di depan Bapak ngobrol sama orang, dia cerita, anaknya pernah diterima di UGM tapi nggak diambil, dia daftar di Polines dan diambil, semua registrasinya udah diselesain tapi pas dirasa-rasa dia nggak cocok sama jurusannya dan dia tinggal. Kemudian sempat daftar Unnes di Fakultas Bahasa dan Budaya, cocok, dan  sempet dijalanin tapi lama-lama dia merasa kurang sreg. Akhirnya dia masuk FISIP Undip dan sekarang dia udah masuk semester 3. However, hari ini dia ikut tes masuk sekolah kedinasan ini juga.”
Aku rada heran sama cerita ini. Aku percaya sama omongan Bapak, tapi aku sangsi aja sama kebenaran cerita dari orang yang ditemui Bapak. Tapi kalaupun benar, kenapa dia seserakah itu? Kalaupun dia nggak suka kenapa dia daftar, bahkan sempet diambil. Ya sih, kita memang harus menaruh telur ke lebih dari satu keranjang. Tapi kan kasian mereka mereka yang bener bener mantep sama jurusan-jurusan yang disampahkan sama 'si anak ini' tapi malah nggak diterima. Dan pas dia udah jadi mahasiswa kenapa juga dia masih aja nyerobot jatah adek kelasnya.
Ya tapi gimanapun juga nggak boleh suuzdhon sama 'si anak ini'. Mungkin dia punya alesan kenapa dia ngelakuin hal kayak gitu. Kayak Si Unang penolak D3 tadi, alesan dia "Ah D3, nanggung, nanti lulusnya kudu ngulang lagi, transfer, iya kalo transfernya dibuka, kalo enggak? Bla bla bla". (Kalau nggak mau D3 ngapain daftar coy-_-)
Alasan klasik. Tapi kenapa D3 begitu dipandang sebelah mata? Dan bahkan dari perkataan Unang, seakan-akan mending nggak kuliah daripada harus D3. Apa salahnya kuliah D3? Lagian siapa yang tahu masa depan. Pada dasarnya qadha dan qadhar adalah hal yang harus kita imani. Selebihnya, seperti rencana-rencana, usaha-usaha dan lain-lain hanyalah bentuk ikhtiar kita pada Allah dan Ia lah yang menentukan hasilnya.

Kamis, 23 Mei 2013

Perindu

Karna pertemuan pertama menyisakan rasa penasaran
dan pertemuan kedua menyisakan rasa rindu,
maka kuharapkan pertemuan-pertemuan selanjutnya

“Akhila..”
“Iya, saya,” jawab seorang gadis berambut pendek. Kemudian ia mendekat ke sumber suara. “Saya pinjam buku-buku ini, Pak,” ucapnya pada petugas perpustakaan
“Sebanyak ini?” kata petugas perpustakaan, dahinya berkenyit.
Gadis berambut pendek tersebut hanya mengangguk.
Kemudian petugas perpustakaan itu mencatatkan sesuatu di layar computer di hadapannya, kemudian kembali bersuara “Akhila, diingat ya, waktu meminjamnya tiga hari.” Kata petugas perpustakaan sambil menyerahkan kartu pepustakaan kepada Khila.
“Iya, Pak.”
Khila baru saja keluar dari perpustakaan, tangannya mendekap seonggok buku. Tiba-tiba, brakk. Seseorang menubruk Khila, buku-buku ditangannya jatuh, berhamburan ke lantai. “Sial!” gerutunya dalam hati. Khila segera berjongkok memunguti buku-bukunya di lantai.
“Sori, gue nggak sengaja,” ucap seorang anak laki-laki yang baru saja menubruk Khila.
Khila diam, tak menghiraukan.
“Maafin ya, tadi nggak sengaja” ucap anak laki-laki itu lagi, kali ini ia membantu Khila memunguti buku-bukunya.
Merasa ada yang membantu, Khila buru-buru berucap “Thanks, ya udah ngebantu.”
“Iya, sekali lagi sori ya.”
“Sip, woles aja kali” Ucap Khila, matanya menatap wajah anak laki-laki di depannya. Khila tak mengenali siapa anak laki-laki di hadapannya, maklum, baru dua minggu ia menjadi siswi SMA.
“Oke, gue permisi dulu ya.”
Si anak laki-laki berlalu. Khila masih memerhatikannya, beribu-ribu pertanyaan muncul dalam benak Khila. Siapakah sosok yang baru saja menabraknya.

***
“Fa, ke kantin yuk! Aku pengin beli lollipop nih.” Renggek Khila pada Ifa, teman sebangkunya.
“Iya bentar, tanggung nih” Kata Ifa, matanya masih menatap gadget di tangannya.
“Ah, kamu, dari tadi online mulu,”
“ Lah kamu, dari dulu makanannya lollipop mulu!”
“Ifaa, ayuk, anterin.”
“Iya, iya, ayuk.”
“Nah, gitu dong.”
Khila dan Ifa berjalan menyusuri koridor kelas, menuju kantin terdekat, di ujung kelas sepuluh.
“Khil, aku duduk disini ya. Kamu beli lolipopnya jangan lama-lama ya.” Kata Ifa yang masih sibuk dengan gadgetnya.
“Siap, bos!”
Khila mencari lolipop kesukaanya, lollipop rasa coklat, matanya beredar ke seluruh ruangan. “Yap, ketemu.” Khila segera mengambil lollipop yang tergantung di tembok.
“Hey, lo kan yang tadi nggak sengaja gue tabrak di depan perpus tadi, kan?
“Iya, bener.” Khila menatap wajah anak laki-laki di depannya, anak yang telah membuat buku-bukunya jatuh. Khila masih tak mengenali siapa anak laki-laki di hadapannya
“Oh iya, kenalin gue Karil, anak X-B” kata si anak laki-laki, seakan-akan  menjawab pertanyaan dalam pikiran Khila.
“Aku Akhila, panggilnya Khila aja. Anak X-G” ucap Khila, spontan.
 “Oke, salam kenal Khila.” Kata Karil, mengulurkan tangan.
"Iya, salam kenal juga.” Khila menjabat tangan Karil, ia tersenyum, lesung pipitnya terlihat jelas
Karil memperhatikan senyuman Khila. Sejenak kemudian ia tersadar, ia melepaskan tangannya dari jemari Khila. Tapi matanya masih mengawasi senyuman Khila.

***
Karil menghempaskan tubuhnya ke tempat tidur. Ia memejamkan mata. Sekelebat bayangan masih terekam jelas di matanya, sebuah senyuman manis dari gadis berambut pendek yang tadi siang ia temui. Karil merindukan senyuman itu, merindukan lesung pipit milik gadis itu. Ia merindukan Akhila.

Rabu, 17 April 2013

#GebetanDiambilSahabat?!


Pernah nggak, tiba-tiba kamu denger sahabat dekatmu -temen curhatmu- jadian sama gebetan kamu? Nyesek banget kan ya? Pasti kamu pengin banget neriakin kalimat-kalimat ini di telinga sahabat kamu, sekeras mungkin, sambil nangis-nangis:
“Aku sayang dia duluan, kenal dia, dan memahaminya duluan! Eh, akhirnya kamu yang malah bersamanya.”
“Aku selalu cerita tentang dia kepadamu, tapi entah mengapa kamu malah menjadikan dia kepunyaanmu?”

Dan kamu akan meratap kayak gini:
“Cintai dan perhatikan dia sedalam aku mencintai dan memerhatikannya. Jaga kebahagiaannya untukku.”
“Ini memang tidak adil buatku. Berbahagialah kalian seutuhnya, aku bantu mendoakan.”
“Berbahagialah kamu dengannya. Aku memperbaiki hatiku yang remuk sendirian. Menerima kenyataan.”

Udah.. Coba deh, simak tips saat #GebetanDiAmbilSahabat, di bawah ini:
1. Mantan gebetan boleh, tapi jangan sampai ada yang namanya mantan sahabat. #GebetanDiAmbilSahabat
2. Sadari kesalahanmu, kenapa kamu gak mengungkapkan perasaanmu? Pada akhirnya, dia tak tahu. #GebetanDiAmbilSahabat
3. Mengenai sahabatmu ini, sebenarnya tak ada yang salah di sini. Adakah yang salah dalam cinta? #GebetanDiAmbilSahabat
4. Ketika #GebetanDiAmbilSahabat ada hal positifnya juga, kamu tahu bagaimana perasaan mereka yang sesungguhnya.
5. Ketika #GebetanDiAmbilSahabat berbuatlah elegan. Jangan marah, ngambek, dan berubah. Itu tidak dewasa.
6. Tetap jaga hubungan kalian, meskipun #GebetanDiAmbilSahabat kamu harus belajar menerima kenyataan dan dewasa.
7. Jangan ciptakan permusuhan hanya karena kalian mencintai satu orang. #GebetanDiAmbilSahabat
8. Ketika #GebetanDiAmbilSahabat sebenarnya itu hak sahabatmu juga. Gebetan bukan pacar lho. Jadi, jangan marah berlebih.
9. Semuanya tak akan kembali seperti dulu lagi, tapi bersikaplah elegan. Dewasalah. Ikhlaskanlah. #GebetanDiAmbilSahabat
10. Ketika #GebetanDiAmbilSahabat yang harus menjadi fokus utama adalah kamu tak perlu menunjukkan kesedihan. Gak dewasa.

Intinya, saat #GebetanDiAmbilSahabat kauharus belajar memahami. Jadilah dewasa, belajarlah agar kamu tak seperti sahabatmu yang sempat menyakiti. Kamu tak perlu meratap dan menjelek-jelekan sahabatmu. Jaga persahabatan. Jangan ciptakan permusuhan. Semua akan baik-baik saja saat kaubelajar menerima #GebetanDiAmbilSahabat. Kamu berhak bahagia. Hanya karena #GebetanDiAmbilSahabat bukan berarti kebahagiaanmu juga ikut terenggut Ingat, manusia terbaik adalah manusia yang bisa memaafkan. Itulah yang harus kaulakukan ketika #GebetanDiAmbilSahabat :))
Well, #GebetanDiAmbilSahabat? Stay cool! Ada miliyaran orang di dunia, mengapa satu masalah bisa membuatmu begitu sedih?

Adapted from: https://twitter.com/dwitasaridwita